Bukan Tim Sukses

Mustafa Ismail
Mustafa Ismail*

Sebetulnya ini status tak penting. Namun, saya merasa perlu menuliskannya -- minimal -- untuk kembali mengingatkan diri sendiri agar tak larut dalam hiruk pikuk dan hujat-menghujat soal capres. Saya memang tidak berada di posisi seperti sejumlah teman (yang mungkin saja dibayar atau pun tidak dibayar) untuk mendukung sekaligus menghantam capres tertentu.

Mengapa? Pertama, saya bukan bagian dari jejaring partai politik. Juga bukan bagian dari pemerintahan (yang kita tahu pantai pemerintah atau pendukung pemerintah cenderung mendukung siapa). Jadi saya tidak beban "utang moral" kepada orang atau partai yang mengajak saya masuk lingkaran kekuasaan. Sehingga saya tidak perlu cari muka dengan status yang mendukung lingkaran yang telah "menolong" saya sambil terus menohok pihak atau partai lain yang berseberangan dengan lingkaran politik saya.

Kedua, saya bukan tim sukses, bukan tim media sosial (yang pastilah dibayar untuk itu), bukan pula pasukan hore-hore atau penggembira. Maka itu saya merasa tidak perlu menulis status atau membagi tautan yang berkaitan dengan capres tertentu sambil menghujat capres lain. Saya hanya punya sikap personal untuk memilih salah satu capres itu pada 9 Juli nanti dan tidak perlu pula saya umbar-umbar lewat facebook maupun twitter. Sebab saya bukan siapa-siapa, sehingga apa pentingnya buat orang lain untuk tahun pilihan saya.

Ketiga, saya tidak sedang cari muka kepada salah satu kelompok tertentu -- agar misalnya tetap berada di lingkaran kekuasaan. Juga tidak sedang mencari cara agar saya nanti diajak masuk lingkaran pemenang. Jadi tidak ada kewajiban bagi saya untuk menyanjung pihak satu setinggi langit atau rela mencium kentutnya yang bau sambil memaki dan menjatuhkan pihak lain. Selain itu, menurut nilai-nilai yang saya pegang teguh, orang yang mencela orang atau pihak lain sesungguhnya lebih tercela dari orang atau pihak yang dia cela!

Keempat, tindakan mencela atau menjelek-jelekkan orang atau pihak lain adalah model marketing paling barbar, bodoh, tak kreatif, dan tak beretika. Marketing modern selalu berusaha mengangkat keunggulan produknya untuk meraih posisi di pasar tanpa menyenggol-nyenggol pihak lain. Marketing seperti inilah yang memberi kenyamanan bagi positioning produk. Sebab, marketing yang menyerang produk lain sesungguhnya, tanpa dia sadari, ia sedang merendahkan produknya sendiri.

Kelima, jika saya mendukung secara brutal seseorang atau satu pihak sambil menyerang secara brutal orang atau pihak lain, bagaimana jika pihak yang saya serang itu justru yang jadi pemenang? Saya akan malu hati nantinya untuk berada di bawah kemenangan dia. Meskipun dalam politik tidak ada musuh abadi dan yang ada kepentingan abadi, namun politik tidak bisa dilepas dari etika dan moralitas. Tapi apa kata dunia jika pada suatu masa saya mencela habis-habisan tapi ketika ia tampil jadi pemenang saya pun mencari cara untuk mendekatinya, menjadi partner koalisi misalnya -- dengan berbagai alasan pembenaran.

Keenam, saya tidak ingin memperlihatkan ketololan dan kebodohan saya di media sosial dengan menyerang orang lain secara tak beradab. Apalagi, status dan komentar saya bukan didasari oleh fakta, tapi lebih sebagai opini yang berangkat dari desas-desus bahkan fitnah. Saya pasti akan malu sekali jika komentar saya keliru ketika disandingkan dengan fakta-fakta yang sebenarnya. Saya ingin menjadi salah satu pemilih yang memilih tanpa diketahui siapa yang saya pilih. Karena saya bukan siapa-siapa.

Pamulang, 28 Mei 2014

* Penyair, Jurnalis di  MBM Tempo 

0 komentar:

Posting Komentar

 
© 2009 CONTOH TAMPILAN | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan